Jumat, 14 Mei 2010

Leiden dan Snouck


Snouck Hurgronje sebagai contoh “yang jelas dan sederhana” tentang seorang ahli Islam yang pengetahuan orientalnya pada hakekatnya mengaburkan “identitas nasionalnya”

[Edward Said, dikutip dalam Ducth Culture Overseas; Frances Gouda]

Mungkin bangsa ini memiliki kenangan pahit bersama Belanda. Sejarah mencatat bahwa Belanda telah bertindak semena-mena sebagai penjajah negeri Indonesia. Tiga abad lebih negeri Nusantara mengalami masa-masa penindasan yang tentu saja akan diingat selalu sampai kapanpun. Hingga pada satu masa kemerdekaan telah dinyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan tanpa kecuali.

Muslim Indonesia jika ditanya mengenai siapa tokoh yang paling dikenal mengenai Belanda kebanyakan akan menjawab Snoker-gronye [Snouck Hurgronje]. Tokoh yang satu ini begitu populer karena reputasinya. Jika di Belanda namanya harum, lain halnya dengan di sini. Snouck adalah manusia paling ‘dicari’ kala itu karena dikenal sebagai seorang munafik, pengadu domba kelas tinggi. Kenapa namanya bisa demikian jelek, karena Snouck dikecam sebagai seorang yang mengembangkan bid’ah di Indonesia. Kehandalannya yang begitu amat familier adalah kepicikannya untuk membentuk opini lebih baik memikirkan akhirat dari pada dunia, sehingga kaum muslim di Indonesia kala itu makin terbenam hanya memikirkan ibadah saja, dan menjauhi dari urusan politik. Umat Islam dilupakan untuk berjihad memerangi penjajah yaitu tidak lain kaumnya sendiri Belanda.

Kejumudan ini sebenarnya dilakukan dengan memanfaatkan momentum paham teologi kaum muslim Nusantara kala itu yang bercorak Asy’ariah. Teologi ini lebih mementingkan ketundukan kepada wahyu ketimbang akal (ra’yi). Elaborasi lainnya yaitu kepada paham Jabbariyah yang mempercayai bahwa segala sesuatu telah digariskan oleh Tuhan, jika Tuhan menghendaki untuk menang (merdeka) maka akan dimenangkan begitu juga sebaliknya, sehingga kondisi ini dimanfaatkan betul untuk melemahkan kaum muslim ketika itu. Dan satu lagi adanya singkretisme yang terus tumbuh dalam pelaksanaan keagamaan masyarakatnya.

Gbr. Snouk Hurgronje berkopiah, dalam sampul terbitan INIS

Kini Indonesia telah merdeka, hubungan Indonesia hingga saat ini tetap baik-baik saja dengan bekas “tuannya’ itu. Dari buku-buku didapati bahwa seorang Snouck adalah ilmuwan yang ulung dan berdedikasi tinggi. Ia bahkan disebut pernah menimba ilmu di Mekkah. Menguasai bahasa Arab baik lisan dan tulisan, ia adalah guru besar dalam bidang Agama dan adat Islam. Universitas tempat bernaungnya adalah Leiden University. Universitas yang ketika penulis mendengarnya saja penuh dengan aroma klasik. Aroma itu adalah naskah dan manuskrip, Leiden dan universitas di Belanda adalah surga bagi naskah kuna termasuk naskah-naskah milik kaum muslimin dahulunya. Di lembaga-lembaga arsip dan perpustakaannya jika ditelusuri didalam perut lembaga informasi tersebut tersimpan harta karun naskah kuna.

Gbr. salah satu bagian dari Universitas Leiden

Sejak berkuliah dahulu kebetulan penulis mengambil jurusan ilmu perpustakaan. Ada beberapa mata kuliah yang diasuh oleh dosen-dosen yang memiliki pengalaman ke Belanda. Sebut saja Ibu Prof. Dr. Nabilah Lubis,MA., Drs.Arifin Toy,M.Sc. Dr.Dien Madjid MA. dan ada juga dosen-dosen lain yang kebetulan tidak secara langsung mengajar. Tahun itu tepatnya tahun 1999 di IAIN sekarang UIN Jakarta telah dibuka jurusan Ilmu Perpustakaan dan Sistem Informasi. Maka sejak saat itulah penulis bergumul dengan keilmuan ini, meskipun banyak orang mempertanyakan apa yang dipelajari di jurusan aneh tersebut. Karena orang masih mengenal image perpustakaan dan pustakawannya hanya sebagai penjaga buku, dan biasanya orang yang sudah tua, berkepala botak dan berkaca mata tebal.

Padahal jika saya membaca buku-buku utama mengenai ilmu perpustakaan, perpustakaan adalah jantungnya Universitas. Universitas yang besar dan ternama menurut teorinya akan bertumpu dengan koleksi buku dan perpustakaan yang besar. Dosen-dosen yang disebut diawal dalam sela-sela kuliahnya menceritakan bahwa mereka dapat melakukan dan menyelesaikan tesis dan disertasinya dengan bantuan perpustakaan di Belanda, terutama Universitas Leiden. Sebuat saja Ibu Nabila Lubis, guru besar dalam bidang filologi Islam, ketika menulis risetnya mengenai studi naskah mengenai Hamzah Fansuri dan Abdurrauf Sinkel. Beliau mengatakan dengan penuh takjub. Naskah-naskah yang dibutuhkan dalam disertasinya diketemukan dan tersimpan dengan rapi di negeri nun jauh disana. Naskah berumur ratusan tahun dirawat layaknya bayi sangat hati-hati. Cukup aneh juga, mengapa bisa terjadi, Belanda dikenal sebagai surga bagi mahasiswa yang mengambil kajian ke-Islaman, dengan buku-buku rujukan klasik, termasuk dalam bentuk manuskrip-manuskrip kuno. Dien Madjied lain lagi, ia bahkan terkagum-kagum menyaksikan kertas-kertas yang dibuat oleh orang-orang Indonesia bermacam-macam ragamnya mengenai masalah haji, perkawinan, soal perceraian dan talak, perjanjian dengan raja-raja lokal di Nusantara bisa tersimpan dan dirawat dengan amat telaten.

Pengalaman Arifin Toy lain lagi, bahwa beliau menyaksikan manuskrip dalam pelepah kurma atau medium kulit yang mencatat perkataan Nabi Muhammad SAW. Artinya tulisan-tulisan periode awal sebagai artefak keabsahan kehidupan Rasullulah tersimpan dengan baik. Hal ini jika ditengok dalam sejarah bagaikan pengulangan sejarah. Dunia Islam pernah mengalami kejayaan dalam dunia ilmu pengetahuan.

Sebuah keniscayaan –jika Barat tidak mengakuinya– bahwa Islam telah menjadi kekuatan tersendiri dalam bidang ilmu pengetahuan. Ahli ilmu kaum muslim juga amat diperhitungkan, ada Avicena nama lain Ibnu Sina, ilmuwan muslim yang karyanya al-Kanun fi al-Tibb menjadi pegangan bagi mahasiswa kedokteran di Barat. Averous untuk Ibnu Rusyd, ahli fikih dengan karyanya al-Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. Ibnu Rusyd (Averos) juga dikenal sebagai filosof pengulas filsafat Aristoteles, sehingga karyanya ini dapat dimanfaatkan oleh ilmuwan Barat, iapun dikenal sebagai guru kedua setelah Aristoteles. Al-Ghazali (Algazel) dengan karya-karya ahlak tasawufnya (salah satu karyanya Ihya Ulum al-Din) dibaca dan dikaji sebagai kajian moral dan etika. Selain dalam sumbangsih ilmu, Islam sendiri menjadi kajian lewat tradisi sosial keagamaanya misalnya kehidupan sufi. Nama-nama seperti Jalaluddin al-Rumi, Ibn ‘Atha’illah al-Sakandari, Rabi’ah al-Adawiyah, Fariduddin al-Tar, adalah sedikit dari tokoh tasawuf Islam yang telah menarik orang-orang Barat untuk mengkajinya. Annemarie Schimmel, Frinjoft Schuon, Gothe, Carl W. Erns banyak menulis persoalan mistik Islam dengan tokoh sufi diatas.

Sebagai penutup bahwa tradisi keilmuan tidak bisa dibangun tanpa adanya pusat-pusat penyimpan informasi dan termasuk penggiat keilmuan seperti seorang Snouck Hurgronje. Informasi dalam bentuk apapun adalah berharga. Islamic studies dapat berdiri di Leiden University karena dukungan perpustakaan yang baik. Koleksinya dari sumber asli yang dapat dijadikan rujukan sepanjang masa, karena berupa naskah otentik. Kita juga mesti belajar bagaimana ilmuwan seperti Snouck Hurgronje mencari ilmu dan meluaskan pengetahuannya, dengan menyambangi pusat-pusat ilmu itu disimpan. Tradisi Barat yang biasanya ditujukan kepada Amerika dan Eropa sulit terkejar bahkan untuk mengimbanginya. Seperti juga Snouck yang menjadi pelopor bagi politik etis di negeri jajahan Indonesia, namun gaungnya agak berbeda sekarang ini. Ahli ahli Amerika lebih nyaring suaranya ketika membicarakan urusan yang melibatkan Islam dan umat. Dapat disebutkan seperti Karen Armstrong (buku-bukunya sangat bayak di Indonesia dalam bentuk terjemahan). Huston Smith, atau John L. Esposito. Islam dapat ditampilkan sebagai agama yang tidak melulu soal peperangan (jihad) lebih dari itu Islam adalah agama yang membawa manusia kepada perdamaian dan turut mengantarkan keadaan dunia menjadi lebih baik hingga saat ini. Mungkin suatu waktu ahli dari Belanda tentu akan menyusul membawakan pesan-pesan Islam damai dan berbudaya sebagai rahmatan lil-‘alamin.

@Sukron Sugandi/2010@

Sumber :

[1] Badarus Syamsi. Post-Orientalisme : Membongkar Citra Palsu Islam. Jakarta : STIT Tebo Jambi-Sentra Media, 2006. [2] Gouda, Frances. Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial Belanda di Indoensia, 1900-1942. Jakarta : Serambi, 2007. [3] Poeradisastra, S.I. Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Perdaban Modern.—Cet.3- Jakarta : Komunitas Bambu, 2008. [4] Sumpeno, Achmad. Reanalisis Pengkajian Keislaman di Perguruan Tinggi Agama Islam. Artikel dalam The 9th Annual Conference on Islamic Studies (ACIS). Surakarta, 2-5 November 2009. Sumber gambar seluruhnya dari google.com; inzet kampus dari : http://mladiinfo.com/wp-content/uploads/2009/12/leiden_university.jpg. Untuk logo : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/1a/Seal_Leiden_University.jpg. Wajah Christian Snouck Hurgronje dari : http://www.bukubagus.com/68651519/images/kumpulan-karangan-snouckkk-.gif

Jumat, 14 September 2007

Penamaan

Pembatja, berikut coba saya tuliskan mengenai buku yang baru saja saya beli berupa terjemahan arab ke Indonesia. Sebelumnya saya juga akan mengurai sedikit mengenai kesalahan historis (yang disengaja) terhadap penulisan nama-nama penulis muslim oleh orang-orang Barat (Eropa).
Saya coba menyebut contoh yang hingga kini telah baku seperti Averoes untuk Ibn Rusyd (LC: Ibn Rushd), Razez (al-Razi), Avicena (Ibnu Sina), al-Gazel (al-Ghazali), al-Farabus (al-Farabi?), al-Kindus (al-Kindi?). Nama-nama mereka cukup dikenal karena karya-karya mereka dikaji dan dikembangkan. Sebagai contoh Kitab Canon Ibnu Sina menjadi kitab rujukan kedokteran utama di Eropa cukup lama (abad Reinasance), dan masih ada buku-buku lainnya.
Kemudian, sebagai azaz pembuktian bahwa mereka telah salah dalam menggunakan nama-nama tersebut, telah banyak ditulis buku-buku baik karya dari kalangan sendiri (muslim) maupun karya-karya dari orang luar (Barat). Bisa disebutkan misalnya buku Poeradisastra, yang mengetengahkan mengenai Sumbangan Islam kepada Sains Modern di Eropa. Sutan Takdir (editor) menulis mengenai andil Islam kepada peradaban barat, penulis dari Barat seperti Mehdi Nakosteen, menulis tentang tradisi ilmiah kaum muslim abad keemasannya (s.d. 1258 M) abad ke-13. Atau Howard Turner yang menulis mengenai keunggulan sains Islam. Apa yang dapat diinformasikan adalah bahwa mereka (cendikiawan muslim) ditulis dengan tulisan aslinya berupa nama familier mereka di dunia Islam.
Kembali disini saya contohkan, bahwa kesalahan yang dilakukan juga dapat terjadi pada kita, saya pernah mendapat informasi (salah?) bahwa kata George dalam aksara arab ditulis dengan huruf jim, wau (disukun) ra' dan jim. Tetapi pelafalan menjadi Jurji, maka kita mengenal nama seperti Jurji Zaydan (penulis buku sejarah Fajr al-Islam). Beberapa waktu lalu saya membeli buku terjemahan karangan Yusuf al-Qardhawi berjudul Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam tebitan 'Izzan Pustaka, tahun terbit 2003 (tanggal pembelian awal September 2007). Disini saya bukan mengkritik buku tersebut, akan tetapi ada hal menarik yang dapat dihubungkan dengan tulisan ini. Diantaranya mengenai pengalihan penulisan nama dari bahasa Arab ke Latin dari nama-nama pengarang Barat oleh penterjemah. Muncul nama-nama seperti Maksam Rodonson, Prof. Berivolt, Lopend, Blue Tark (disebut sejarawan Yunani), Rogeh Garode. Penulis hanya dapat tau' Maxime Rodinson (penulis Muhammad- a Biography), Roger Garaudy (seorang mu'allaf? ada buku yangmenulis tentang Roger Garaudy, Pergulatan mencari Islam: oleh Muhsin al-Mayli karya terj. penerit Mizan, tahun 1996), atau mungkin Plato? untuk Blue Tark karena Plato ditulis dengan huruf awal [Ba] bukan [fa'] berturut-turt [lam] dan huruf [tha] dan terakhir [wau]. Secara keseluruhan buku ini amat baik, terjemahannya enak dibaca, tulisan yang sangat bagus untuk mengkritik Karl Mark, dan Augus Comte. Ketelitian sepertinya sudah dilakukan, nama-nama yang salah ini hanya segelintir tapi saya bermaksud untuk memberikan gambaran obyektif mengenai kesalahan penulisan, membuka diri terhdap Barat tidak buruk, sebagaimana Dr. Yusuf Qardawi yang mau mengutip perkataan Santo Agustinus (Saint Agustine) dalam buku ini.

Sabtu, 01 September 2007

TERIMA KASIH....ARIGATO !!!

sobat, atau pembatja budiman sudi kiranja saya menceritakan keunikan budaya, budaya orang seberang nun jauh disana. Kita mengenalnya orang dari negeri sakura, negeri matahari terbit, negri dimana teknologi tumbuh subur. Mungkin saya tidak begitu dekat dengan mereka, yang kebetulan mampir, 
mereka adalah para mahasiswa yang sedang mengikuti summer course apa ya, 
ya semacam kuliah singkat. 
Kalau selama ini yang saya tau lewat bacaan, koran atau tuturan orang perorang, kini saya betul betul mengalaminya sendiri, apa itu. soal on time (tepat waktu). 
Mereka betul betul mengajari saya, orang Tenabang yang menurut lagu Iwan Fals, 2 jam itu biasa
sekali waktu saya mengantar para tuirs ini yang sebenarnya teman saya.
Mereka masih ABG anak-anak muda, namun apa yang ditanamkanoleh culture (kebudayaan) kakek nenek begitu terasa. Ketika tiba di tempat yang dituju, kawan-kawan saya ini ngobral sejenak, mau kemana, siapa yang akan berbeda tujuan. Kemudian deal kita semua jumpa disini dititik ini. Titik nol itu adalah Sarinah Pasar Raya lt. 5 (bagian pernak pernik Indonesia) jam 15.30.
Sobat, pembajta budiman, sesekali saya mengikuti mereka, sesekali ikut pegang-pegang juga. Kebanyakan dari mereka yang perempuan membeli sejenis pengharum untuk spa. 
Wewangian ini dijua antara 20 ribuan hingga ratusan mungkin. wanginya macam-macam. Yang laki2 sya lihat membeli dasi (tie) bertema batik. Dua orang lainnya nekat ke kaki 5. 
Mereka ingin tau bagaimana warna Indonesia lewat lapak-lapak bermandi matahari jam 3 sore. Apa daya saya tak banyak bantu, keduanya hanya igin menawar sendiri, 
maka terbelilah beberap akeping VCD (DVD) hasil tawaran mereka. 
Yang satunya wanita lebih tertarik dengan tas, yang harganya selangit bagi saya 250.000 
(tapi sudah didiscount oleh si abang yang "galak itu". maka erbayarlah 100.000 rupiah bulat. 
Tancap kaki kita bertiga balik ke pasar raya Grande. Puar putar sebentar, butuh beberap ameniy saya menuju 
musholla sholat ashar, sementara mereka pilih-pilih apa yang terasa menarik. Tibalah saat-saat itu. Kawan-kawan saya itu, menunggu saya persis di dekat lift naik lt. 5, 
dimana kita berjanji setia untuk bersua kembali, 
tak ada ekspresi lain kecuali sapaan mereka dari titik nol itu. Sukron San, tangan merek dinaikkan tinggi-tinggi tepat ditiik nol itu, 
walau agak bergeser (mungkin agar mudah terlihat, karena didepannya orang akan berlalu lalang). Tanpa ada yang bergerak sedikitpun, mereka menunggu saya di lokus itu, .... dan kita pulang nersama
Sayonara-sayonara sampai berjumpa lagi........buat apa susah buat apa susah susah itu tak ada gunanya. Minggu tanggal 2 September mereka bertolak kenegeri yang penuh keteraturan, bersahaja 
namun syarat dengan pembelajaran.........Arigato gazaimasu !!!!