sobat, atau pembatja budiman sudi kiranja saya menceritakan keunikan budaya, budaya orang seberang nun jauh disana. Kita mengenalnya orang dari negeri sakura, negeri matahari terbit, negri dimana teknologi tumbuh subur. Mungkin saya tidak begitu dekat dengan mereka, yang kebetulan mampir,
mereka adalah para mahasiswa yang sedang mengikuti summer course apa ya,
ya semacam kuliah singkat.
Kalau selama ini yang saya tau lewat bacaan, koran atau tuturan orang perorang, kini saya betul betul mengalaminya sendiri, apa itu. soal on time (tepat waktu).
Mereka betul betul mengajari saya, orang Tenabang yang menurut lagu Iwan Fals, 2 jam itu biasa
sekali waktu saya mengantar para tuirs ini yang sebenarnya teman saya.
Mereka masih ABG anak-anak muda, namun apa yang ditanamkanoleh culture (kebudayaan) kakek nenek begitu terasa. Ketika tiba di tempat yang dituju, kawan-kawan saya ini ngobral sejenak, mau kemana, siapa yang akan berbeda tujuan. Kemudian deal kita semua jumpa disini dititik ini. Titik nol itu adalah Sarinah Pasar Raya lt. 5 (bagian pernak pernik Indonesia) jam 15.30.
Sobat, pembajta budiman, sesekali saya mengikuti mereka, sesekali ikut pegang-pegang juga. Kebanyakan dari mereka yang perempuan membeli sejenis pengharum untuk spa.
Wewangian ini dijua antara 20 ribuan hingga ratusan mungkin. wanginya macam-macam. Yang laki2 sya lihat membeli dasi (tie) bertema batik. Dua orang lainnya nekat ke kaki 5.
Mereka ingin tau bagaimana warna Indonesia lewat lapak-lapak bermandi matahari jam 3 sore. Apa daya saya tak banyak bantu, keduanya hanya igin menawar sendiri,
maka terbelilah beberap akeping VCD (DVD) hasil tawaran mereka.
Yang satunya wanita lebih tertarik dengan tas, yang harganya selangit bagi saya 250.000
(tapi sudah didiscount oleh si abang yang "galak itu". maka erbayarlah 100.000 rupiah bulat.
Tancap kaki kita bertiga balik ke pasar raya Grande. Puar putar sebentar, butuh beberap ameniy saya menuju
musholla sholat ashar, sementara mereka pilih-pilih apa yang terasa menarik. Tibalah saat-saat itu. Kawan-kawan saya itu, menunggu saya persis di dekat lift naik lt. 5,
dimana kita berjanji setia untuk bersua kembali,
tak ada ekspresi lain kecuali sapaan mereka dari titik nol itu. Sukron San, tangan merek dinaikkan tinggi-tinggi tepat ditiik nol itu,
walau agak bergeser (mungkin agar mudah terlihat, karena didepannya orang akan berlalu lalang). Tanpa ada yang bergerak sedikitpun, mereka menunggu saya di lokus itu, .... dan kita pulang nersama
Sayonara-sayonara sampai berjumpa lagi........buat apa susah buat apa susah susah itu tak ada gunanya. Minggu tanggal 2 September mereka bertolak kenegeri yang penuh keteraturan, bersahaja
namun syarat dengan pembelajaran.........Arigato gazaimasu !!!!
mereka adalah para mahasiswa yang sedang mengikuti summer course apa ya,
ya semacam kuliah singkat.
Kalau selama ini yang saya tau lewat bacaan, koran atau tuturan orang perorang, kini saya betul betul mengalaminya sendiri, apa itu. soal on time (tepat waktu).
Mereka betul betul mengajari saya, orang Tenabang yang menurut lagu Iwan Fals, 2 jam itu biasa
sekali waktu saya mengantar para tuirs ini yang sebenarnya teman saya.
Mereka masih ABG anak-anak muda, namun apa yang ditanamkanoleh culture (kebudayaan) kakek nenek begitu terasa. Ketika tiba di tempat yang dituju, kawan-kawan saya ini ngobral sejenak, mau kemana, siapa yang akan berbeda tujuan. Kemudian deal kita semua jumpa disini dititik ini. Titik nol itu adalah Sarinah Pasar Raya lt. 5 (bagian pernak pernik Indonesia) jam 15.30.
Sobat, pembajta budiman, sesekali saya mengikuti mereka, sesekali ikut pegang-pegang juga. Kebanyakan dari mereka yang perempuan membeli sejenis pengharum untuk spa.
Wewangian ini dijua antara 20 ribuan hingga ratusan mungkin. wanginya macam-macam. Yang laki2 sya lihat membeli dasi (tie) bertema batik. Dua orang lainnya nekat ke kaki 5.
Mereka ingin tau bagaimana warna Indonesia lewat lapak-lapak bermandi matahari jam 3 sore. Apa daya saya tak banyak bantu, keduanya hanya igin menawar sendiri,
maka terbelilah beberap akeping VCD (DVD) hasil tawaran mereka.
Yang satunya wanita lebih tertarik dengan tas, yang harganya selangit bagi saya 250.000
(tapi sudah didiscount oleh si abang yang "galak itu". maka erbayarlah 100.000 rupiah bulat.
Tancap kaki kita bertiga balik ke pasar raya Grande. Puar putar sebentar, butuh beberap ameniy saya menuju
musholla sholat ashar, sementara mereka pilih-pilih apa yang terasa menarik. Tibalah saat-saat itu. Kawan-kawan saya itu, menunggu saya persis di dekat lift naik lt. 5,
dimana kita berjanji setia untuk bersua kembali,
tak ada ekspresi lain kecuali sapaan mereka dari titik nol itu. Sukron San, tangan merek dinaikkan tinggi-tinggi tepat ditiik nol itu,
walau agak bergeser (mungkin agar mudah terlihat, karena didepannya orang akan berlalu lalang). Tanpa ada yang bergerak sedikitpun, mereka menunggu saya di lokus itu, .... dan kita pulang nersama
Sayonara-sayonara sampai berjumpa lagi........buat apa susah buat apa susah susah itu tak ada gunanya. Minggu tanggal 2 September mereka bertolak kenegeri yang penuh keteraturan, bersahaja
namun syarat dengan pembelajaran.........Arigato gazaimasu !!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar