Jumat, 14 September 2007

Penamaan

Pembatja, berikut coba saya tuliskan mengenai buku yang baru saja saya beli berupa terjemahan arab ke Indonesia. Sebelumnya saya juga akan mengurai sedikit mengenai kesalahan historis (yang disengaja) terhadap penulisan nama-nama penulis muslim oleh orang-orang Barat (Eropa).
Saya coba menyebut contoh yang hingga kini telah baku seperti Averoes untuk Ibn Rusyd (LC: Ibn Rushd), Razez (al-Razi), Avicena (Ibnu Sina), al-Gazel (al-Ghazali), al-Farabus (al-Farabi?), al-Kindus (al-Kindi?). Nama-nama mereka cukup dikenal karena karya-karya mereka dikaji dan dikembangkan. Sebagai contoh Kitab Canon Ibnu Sina menjadi kitab rujukan kedokteran utama di Eropa cukup lama (abad Reinasance), dan masih ada buku-buku lainnya.
Kemudian, sebagai azaz pembuktian bahwa mereka telah salah dalam menggunakan nama-nama tersebut, telah banyak ditulis buku-buku baik karya dari kalangan sendiri (muslim) maupun karya-karya dari orang luar (Barat). Bisa disebutkan misalnya buku Poeradisastra, yang mengetengahkan mengenai Sumbangan Islam kepada Sains Modern di Eropa. Sutan Takdir (editor) menulis mengenai andil Islam kepada peradaban barat, penulis dari Barat seperti Mehdi Nakosteen, menulis tentang tradisi ilmiah kaum muslim abad keemasannya (s.d. 1258 M) abad ke-13. Atau Howard Turner yang menulis mengenai keunggulan sains Islam. Apa yang dapat diinformasikan adalah bahwa mereka (cendikiawan muslim) ditulis dengan tulisan aslinya berupa nama familier mereka di dunia Islam.
Kembali disini saya contohkan, bahwa kesalahan yang dilakukan juga dapat terjadi pada kita, saya pernah mendapat informasi (salah?) bahwa kata George dalam aksara arab ditulis dengan huruf jim, wau (disukun) ra' dan jim. Tetapi pelafalan menjadi Jurji, maka kita mengenal nama seperti Jurji Zaydan (penulis buku sejarah Fajr al-Islam). Beberapa waktu lalu saya membeli buku terjemahan karangan Yusuf al-Qardhawi berjudul Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam tebitan 'Izzan Pustaka, tahun terbit 2003 (tanggal pembelian awal September 2007). Disini saya bukan mengkritik buku tersebut, akan tetapi ada hal menarik yang dapat dihubungkan dengan tulisan ini. Diantaranya mengenai pengalihan penulisan nama dari bahasa Arab ke Latin dari nama-nama pengarang Barat oleh penterjemah. Muncul nama-nama seperti Maksam Rodonson, Prof. Berivolt, Lopend, Blue Tark (disebut sejarawan Yunani), Rogeh Garode. Penulis hanya dapat tau' Maxime Rodinson (penulis Muhammad- a Biography), Roger Garaudy (seorang mu'allaf? ada buku yangmenulis tentang Roger Garaudy, Pergulatan mencari Islam: oleh Muhsin al-Mayli karya terj. penerit Mizan, tahun 1996), atau mungkin Plato? untuk Blue Tark karena Plato ditulis dengan huruf awal [Ba] bukan [fa'] berturut-turt [lam] dan huruf [tha] dan terakhir [wau]. Secara keseluruhan buku ini amat baik, terjemahannya enak dibaca, tulisan yang sangat bagus untuk mengkritik Karl Mark, dan Augus Comte. Ketelitian sepertinya sudah dilakukan, nama-nama yang salah ini hanya segelintir tapi saya bermaksud untuk memberikan gambaran obyektif mengenai kesalahan penulisan, membuka diri terhdap Barat tidak buruk, sebagaimana Dr. Yusuf Qardawi yang mau mengutip perkataan Santo Agustinus (Saint Agustine) dalam buku ini.

Sabtu, 01 September 2007

TERIMA KASIH....ARIGATO !!!

sobat, atau pembatja budiman sudi kiranja saya menceritakan keunikan budaya, budaya orang seberang nun jauh disana. Kita mengenalnya orang dari negeri sakura, negeri matahari terbit, negri dimana teknologi tumbuh subur. Mungkin saya tidak begitu dekat dengan mereka, yang kebetulan mampir, 
mereka adalah para mahasiswa yang sedang mengikuti summer course apa ya, 
ya semacam kuliah singkat. 
Kalau selama ini yang saya tau lewat bacaan, koran atau tuturan orang perorang, kini saya betul betul mengalaminya sendiri, apa itu. soal on time (tepat waktu). 
Mereka betul betul mengajari saya, orang Tenabang yang menurut lagu Iwan Fals, 2 jam itu biasa
sekali waktu saya mengantar para tuirs ini yang sebenarnya teman saya.
Mereka masih ABG anak-anak muda, namun apa yang ditanamkanoleh culture (kebudayaan) kakek nenek begitu terasa. Ketika tiba di tempat yang dituju, kawan-kawan saya ini ngobral sejenak, mau kemana, siapa yang akan berbeda tujuan. Kemudian deal kita semua jumpa disini dititik ini. Titik nol itu adalah Sarinah Pasar Raya lt. 5 (bagian pernak pernik Indonesia) jam 15.30.
Sobat, pembajta budiman, sesekali saya mengikuti mereka, sesekali ikut pegang-pegang juga. Kebanyakan dari mereka yang perempuan membeli sejenis pengharum untuk spa. 
Wewangian ini dijua antara 20 ribuan hingga ratusan mungkin. wanginya macam-macam. Yang laki2 sya lihat membeli dasi (tie) bertema batik. Dua orang lainnya nekat ke kaki 5. 
Mereka ingin tau bagaimana warna Indonesia lewat lapak-lapak bermandi matahari jam 3 sore. Apa daya saya tak banyak bantu, keduanya hanya igin menawar sendiri, 
maka terbelilah beberap akeping VCD (DVD) hasil tawaran mereka. 
Yang satunya wanita lebih tertarik dengan tas, yang harganya selangit bagi saya 250.000 
(tapi sudah didiscount oleh si abang yang "galak itu". maka erbayarlah 100.000 rupiah bulat. 
Tancap kaki kita bertiga balik ke pasar raya Grande. Puar putar sebentar, butuh beberap ameniy saya menuju 
musholla sholat ashar, sementara mereka pilih-pilih apa yang terasa menarik. Tibalah saat-saat itu. Kawan-kawan saya itu, menunggu saya persis di dekat lift naik lt. 5, 
dimana kita berjanji setia untuk bersua kembali, 
tak ada ekspresi lain kecuali sapaan mereka dari titik nol itu. Sukron San, tangan merek dinaikkan tinggi-tinggi tepat ditiik nol itu, 
walau agak bergeser (mungkin agar mudah terlihat, karena didepannya orang akan berlalu lalang). Tanpa ada yang bergerak sedikitpun, mereka menunggu saya di lokus itu, .... dan kita pulang nersama
Sayonara-sayonara sampai berjumpa lagi........buat apa susah buat apa susah susah itu tak ada gunanya. Minggu tanggal 2 September mereka bertolak kenegeri yang penuh keteraturan, bersahaja 
namun syarat dengan pembelajaran.........Arigato gazaimasu !!!!